
Smart Edu – Belum banyak orang yang tahu tentang situs purbakala yang ada di Kabupaten Tegal yang ternyata menyimpan sejarah purba yang luar biasa. Situs arkeologi ini nantinya bukan hanya sebagai tempat wisata saja tapi akan menjadi pusat penelitian dan informasi manusia purba. Situs ini telah memberikan data tentang evolusi manusia,budaya dan lingkungan sejak 1,5 juta tahun yang lalu. Lokasi situs purbakala ini berada di desa Semedo, Kecamatan Kedung Banteng, Kabupaten Tegal. Fosil yang ditemukan bukan hanya manusia tetapi juga ada hewan,tumbuhan, artefak litik, dan penemu spesimen atap tengkorak hominid. Fosil pertama yang ditemukan yaitu rahang dan lutut gajah pada tahun 1987. Pada tahun 2011 di perbukitan Semedo ditemukan fosil manusia purba pertama. Fosil – fosil yang ditemukan sebagian besar adalah temuan warga yang kemungkinan telah bertransportasi dari asalnya. Temuan itu meliputi fosil Stegodon, Mastodon, Bovidae seperti kerbau, banteng, sapi, badak, babi, rusa, dan kuda nil, koral,dan binatang laut dan sungai.

Bapak Dakri adalah seorang yang mencetak sejarah baru, beliau seorang laki-laki separuh baya yang mulai merasa jenuh dengan tumpukan pekerjaannya. Namun dia harus menyelesaikan ukiran ukiran para pelanggan. Saat dia mencari kayu dan batu, tidak sengaja Bapak Dakri menemukan fosil di hutan Semedo. Karena penasaran yang sangat tinggi, Bapak Dakri akhirnya membawa pulang hasil temuan Sehingga, ada ribuan fosil terletak dirumah sederhananya. Tarmuji selaku Guru SD Semedo melaporkan temuan Bapak Dakri ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan laporan berbentuk lisan, lalu dinyatakan tidak sah. Saat Bapak Dakri diuji oleh salah satu Tim Badan Arkeologi Yogyakarta, ia mengatakan bahwa ia pernah memakan daging ayam, dan lutut dari ayam yang sama persis dengan fosil yang ia temukan hanya saja ukuran yang jauh lebih besar. Dia berfikiran bahwa tidak mungkin itu tulang ayam,tidak mungkin juga itu tulang kerbau,lalu dalam benaknya bahwa itu gajah karna bentuknya lebih besar dari tulang kerbau.


Bapak Dakri tidak berhenti pada penemuan fosil saja,ia juga menemukan cara menyambungkan fosil yang patah menggunakan lem seadanya.Tindakanya tidak sia – sia dan membuahkan hasil,Bapak Dakri diberi gelar Doktor oleh Harry Widianto pakar Arkeolog, yang di sampaikan di depan Tim Sangiran.Pada 2018 museum sudah tersedia tetapi belum resmi dibuka untuk umum ,gedung – gedung sudah bediri tegak tetapi dalamnya masih kosong. Pada 2019 semua fosil dimasukan kedalam museum tetapi ada beberapa fosil yang masih tersimpan di rumah bapak Dakri. Nama bapak Dakri diabadikan di Situs Museum Semedo. Jalan yang ditempuh medannya cukup sulit karena jalannya masih terbuat dari batu dan pasir, untuk mencapai museum itu sendiri bisa dilalui pejalan kaki, sepeda motor ataupun mobil, tetapi jika memakai mobil perjalanannya cukup sulit. Kebanyakan rumah penduduk juga masih menggunakan kayu termasuk rumah bapak Dakri itu sendiri.
Narasumber : Dakri
Penulis : Nayla Najma (8.8)
Editor : Duta Mutasya (8.8)
